Jenis
Usaha yang Tepat untuk Teknik Promosi Jemput Bola?
- Usaha apa saja yang promosinya bisa dilakukan dengan teknik menjemput bola?
- Seberapa efektif teknik promosi ini?
- Jika sudah melakukan teknik menjemput bola, apakah memerlukan promosi jenis lain? Jika iya, mengapa?
- Apakah promosi seperti ini memerlukan anggaran khusus?”.
Semua
usaha membutuhkan metode promosi dengan teknik jemput bola. Metode ini sangat
efektif dilakukan khususnya bagi mereka yang tidak memiliki modal kuat untuk
memiliki tempat usaha di lokasi yang strategis, tidak memiliki cukup dana
untuk beriklan dan belum memiliki merek dagang (brand image) yang kuat. Intinya
bagi para pelaku usaha yang baru meluncurkan produk-produk baru disarankan
untuk melakukan upaya jemput bola. Memang dibutuhkan kerja keras, namun
sebagaimana Billi PS. Liem (moivator bisnis dari Malaysia) mengatakan bahwa
keberhasilan bisnis itu ditentukan oleh 99% keringat dan 1% keberuntungan. Oleh
karena itu, metode jemput bola termasuk dalam upaya 99% keringat (kerja keras)
yang diharapkan akan membuahkan hasil yang manis di kemudian hari.
Memang kalau kita klasifikasikan dalam jenis-jenis usaha, maka metode jemput
bola ini lebih cocok dilakukan untuk usaha di sektor jasa, misalnya; jasa
pengurusan surat-surat berharga, dengan cara berkas diantar dan diambil ke
rumah ataupun kantor. Contoh lain adalah bisnis jasa pengetikan dan terjemahan
juga cocok untuk menerapkan sistem jemput bola ini. Konsep jemput bola memang
harus dilakukan terutama untuk produk-produk yang memiliki tingkat
persaingan tinggi. Misalnya bisnis kredit sepeda motor yang saat ini sangat
menjamur. Maka pihak dealer harus pandai-pandai melakukan jemput bola. Dengan
memberikan berbagai kemudahan misalnya discount uang muka, pelayanan
pembayaran yang diambil oleh petugas dan juga sistem pengambilan dan penyerahan
berkas yang ditangani pihak dealer atau leasing sehingga konsumen merasa
lebih nyaman dan tidak perlu repot lagi. Jadi intinya sistem jemput bola ini
harus diterapkan oleh bisnis apa saja yang masih baru khususnya bisnis di
sektor jasa.
Teknik ini sangat efektif dilakukan asalkan dilakukan dengan benar. Karena saat
ini banyak yang menggunakan sistem bisnis ini tapi justru bikin konsumen
menjauh. Misalnya kita lihat cara kerja sales produk elektronik yang dengan
getol mendatangi konsumen namun kemudian konsumen justru merasa tidak nyaman
karena merasa dipaksa untuk membeli. Begitu juga pelaku bisnis MLM, mereka
memang gencar jemput bola, namun tidak sedikit yang melakukannya dengan “kasar”
sehingga menimbulkan kesan memaksa. Begitu juga dengan tenaga-tenaga marketing
asuransi, mereka banyak berbicara yang manis-manis saja dan kadang tidak
transparan tentang masalah risiko, sehingga ketika suatu saat ada masalah bisa
menimbulkan trauma bagi konsumen dan trauma itu juga merugikan perusahaan lain
yang sejenis. Jadi asalkan dilakukan dengan benar dan tidak memaksa, tidak
membodohi, membohongi dan tidak menjebak konsumen serta tidak berlebih-lebihan
dalam mempromosikan produknya, sistem jemput bola ini memang sangat efektif
dilakukan.
Walaupun, sudah melakukan promosi dengan cara menjemput bola tapi tentu saja
metode promosi lain tetap diperlukan karena memang tidak 100% metode jemput
bola akan berhasil menggaet calon konsumen. Jadi media promosi seperti iklan
tetap harus dilakukan (jika memiliki dana untuk itu) karena dengan beriklan
maka akan lebih mendekatkan konsumen dengan produknya. Jadi jika sang penjemput
bola datang langsung kepada konsumen maka konsumen akan dengan mudah
menerimanya, karena sudah lebih dahulu mengetahui, atau paling tidak sudah
menghafal nama produknya dan memang itulah kekuatan media. Karena sebuah produk
baru yang belum dikenal sama sekali akan lebih sulit diterima oleh
masyarakat/konsumen.
Pada dasarnya untuk melakukan promosi memang dibutuhkan angaran khusus, namun
besar kecilnya sangat relatif, karena semua bisa disiasati agar promosi jemput
bola bisa berjalan efektif dan dengan biaya yang efisien. Misalnya kita
mempuyai produk makanan sejenis pizza kemudian kita akan melakukan sistem
jemput bola. Maka kita bisa merekrut karyawan-karyawan freelance dengan
syarat tahu seluk beluk wilayah dan memiliki motor. Nah, dengan cara itu kita
bisa minta mereka menyebar brosur ataupun sample produk ke masyarakat
tanpa perusahaan harus membeli sejumlah armada (seperti motor), begitu juga
untuk masalah delivery service (layanan pesan antar) kita bisa lakukan
hal yang sama. Jadi perusahaan tidak perlu mengeluarkan anggaran besar. Atau
bisa juga menerapkan sistem bagi hasil sehingga karyawan freelance yang
bekerja dengan modal sendiri akan dibagi hasil dari setiap produk yang laku.
Ariyanto.
MB.
Konsultan
dan Perencana Bisnis Keluarga
Peluang
Usaha



0 comments:
Posting Komentar